D.I Saddang

 Data IKSI D.I Saddang

 

A. Sejarah Perkembangan Daerah Irigasi Saddang

      Daerah Irigasi Saddang dengan lokasi Bendung terletak di Kelurahan Benteng Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang merupakan Bendung gerak. Semua pintunya merupakan pintu pengatur elevasi air di udik Bendung. Bendung Benteng dibangun pada tahun 1936 terdiri dari 8 pintu pengatur. Daerah Irigasi Saddang memiliki tiga (3) saluran primer, yaitu saluran induk pekkabata, saluran induk rappang dan saluran induk sawitto dengan luas areal layanan 60.300 Ha. Daerah Irigasi Saddang  berada di wilayah sungai Sadang. Posisi daerah irigasi Saddang dalam wilayah sungai berada di tengah. Hulu D.I Saddang terdapat D.I Balombong yang merupakan daerah irigasi kewenangan provinsi, sedangkan hilir terdapat D.I Ongko yang merupakan daerah irigasi kewenangan kabupaten. Lokasi pelayanan Daerah irigasi Saddang melayani 3 (tiga) Kabupaten yaitu Kabupaten Pinrang (Kecamatan Suppa, Mattiro Sompe, Mattiro Bulu, Watang Sawitto, Patampanua, Cempa, Duampanua, Lanrisang, Tiroang, dan, Paleteang), Kabupaten Sidrap (Kecamatan Panca Lautang, Tellu Limpoe, Watang Pulu, Baranti, Maritengae, perwakilan Kulo, dan, perwakilan Sidenreng) dan Kabupaten Wajo (Kecamatan Belawa). Di hulu Saluran Sekunder D.I Saddang terdapat saluran Sekunder Lasape, sedangkan di tengah terdapat Sekunder Sidenreng serta bagian hilir terdapat Sekunder Ongkoe, Macero, dan Wattang.

B. Lokasi Daerah Irigasi Saddang 

      Lokasi Pelaksanaan kegiatan PSETK IPDMIP Tahun 2019 berada di daerah irigasi Saddang. Daerah irigasi Saddang adalah daerah irigasi kewenangan Pusat yang mana tertuang dalam Peraturan  Menteri PUPR No 14 /PRT/M /2015 tentang Kriteria dan Penetapan Status Daerah. Secara administrasi Daerah Irigasi Saddang berada di Wilayah Kabupaten Pinrang, Sidrap dan Wajo dengan luas area layanan mencapai 60.300 Ha.

C. Kondisi Wilayah Daerah Irigasi Saddang

        DI. Saddang dengan luas areal ± 60.300 Ha merupakan Daerah Irigasi Kewenangan Pusat  lintas Kabupaten. Data luas areal daerah irgasi Saddang per Kabupaten dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Luas areal daerah irgasi Saddang per Kabupaten

NO

KABUPATEN

LUAS AREA (Ha)

1

Pinrang

42.931 Ha

2

Sidrap

15.195 Ha

3

Wajo

2.174 Ha

TOTAL

60.300 Ha

 

Berikut data D.I Saddang di masing-masing Kabupaten :

1. Kabupaten Pinrang

    Kabupaten Pinrang terdapat 6 (enam) Kecamatan yang  dilayani oleh D.I Saddang yaitu :

  1. Kecamatan Cempa 4,978 ha

Saluran  sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Cempa adalah : Saluran sekunder Salipolo dengan luas layanan 2246 ha, Saluran sekunder Sikuledeng  dengan luas layanan 152 Ha, Saluran sekunder Bakoko 255 Ha, Saluran sekunder Wakka 826 Ha, Saluran Sekunder Cempa 1667 Ha. 

  1. Kecamatan Mattiro Sompe 2,297 ha

Saluran  sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Mattiro Sompe adalah: Saluran Sekunder Labolong dengan luas layanan 1205 Ha, Saluran Sekunder Cempa 1092 Ha, 

  1. Kecamatan Patampanua  862 ha

Saluran induk dan sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Patampanua adalah : Sal. induk Rappang BR.1-BR.17 dengan luas layanan        862 Ha, Jumlah petak tersier  : 18 buah.

  1. Kecamatan Watang Sawitto  450 ha

Saluran induk dan sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Watang Sawitto adalah: Saluran Sekunder Tiroang Baru dengan luas layanan 208 ha, Saluran Sekunder Cempa  dengan luas layanan 183 ha, Saluran Sekunder Labolong dengan  luas layanan 59 ha. 

  1. Kecamatan Paleteang 297  ha. 

Saluran  induk dan sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Paleteang adalah : Saluran Induk Rappang Ujung dengan luas layanan 142 ha,Saluran Sekunder Labattoa dgn luas layanan 155 ha

  1. Kecamatan Tiroang  3,828 ha.

Saluran induk dan sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Tiroang adalah: Saluran Induk Rappang Ujung dengan luas layanan 1139 ha, Saluran Sekunder Sulili  333 ha, Sal. Sekunder Labattoa 757  ha, Sekunder Tiroang Baru 843 Ha, Sal. Sekunder Boki, Aressie 756 Ha

2Kabupaten Sidrap

    Kabupaten Sidrap terdapat lima Kecamatan dilayani oleh D.I Saddang yaitu : 

  1. Kecamatan Maritengngae 1117,81 ha

Saluran  sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Maritengngae adalah : Saluran sekunder Sidenreng luas layanan 131,71 ha,Saluran sekunder TalumaE luas layanan 259 ha, Saluran sekunder Benteng Lewo      235  ha.

  1. Kecamatan Watampulu  949,63  ha

Saluran  sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Watangmpulu adalah : Saluran sekunder BangkaE dengan luas layanan 678,86 ha, Saluran sekunder Ciro-Ciro  364,19 ha, saluran sekunder Lawawoi 46 Ha.

  1. Kecamatan Tellulimpoe  1610,09  ha

Saluran  sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Tellulimpoe  adalah : Saluran sekunder Sidenreng luas layanan 1128,31 ha, Saluran sekunder  Panrengnge luas layanan 356,78 ha, Saluran sekunder Teteaji luas layanan 225 ha, Saluran sekunder Amparita luas layanan 183 ha

  1. Kecamatan Panca lautang  967,76  ha

Saluran  sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Pancalautan adalah: Saluran sekunder Sidenreng  luas layanan  967,76 ha dengan jumlah petak tersier : 11 buah

  1. Kecamatan Baranti  88,06  ha

Saluran  sekunder yang berada pada wilayah kecamatan Baranti  adalah : Saluran sekunder Bangkae  luas layanan  88,06 ha.

3. Kabupaten Wajo

   Kabupaten Wajo terdapat satu Kecamatan dilayani oleh D.I Saddang yaitu : Kecamatan Belawa dengan luas areal layanan 2.147 Ha.

 

D. Bendung Benteng

     Tahapan yang harus dilakukan dalam pembangunan pengairan yang dikenal dengan SIDLACOM (Survey, Investigation, Design, Land Aquasition Construction, Operation and Maintenance), begitu pula dalam pembangunan Bendung Benteng sebagai berikut :

      1. Survey, dilaksanakan pada tahun 1927 oleh Ir. S. Fremer
      2. Desain, dilaksanakan pada tahun 1933 oleh Ir. S. Fremer
      3. Pembangunan, dimulai pada tahun 1936 oleh Ir. H.M. Verwey
        • Bendung dan komplek Bendung, selesai tahun 1939.
        • Saluran Induk Sawitto dan Saluran Induk Rappang berfungsi tahun 1940.
        • Pembangunan PLTA Teppo 3 (tiga) unit turbin @ 540 Kwh.
        • Saluran Induk Sadang Utara dibangun mulai tahun 1969 (Pelita I) dan diresmikan oleh Menteri Pekerjaan umum (Ir.Soejono Sosrodarsono) pada tahun 1983.
          1.  
      4. Rehabilitasi oleh ’PROSIDA SUB PRO SADANG’ tahun 1970 s/d 1989
      5. Rehabilitasi oleh ’PROYEK IRIGASI SADANG’ tahun 1989 s/d 1994
      6. Rehabilitasi oleh ’BAPRO SADANG’ tahun 1994 s/d 1999
      7. Rehabilitasi oleh ’BAPRO SIPOLEMAJUPI’ 1999 s/d 2005
      8. Rehabilitasi oleh ’BAPELTAN SIPOLEMAJUPI’ 2005 s/d 2007
      9. Rehabilitasi oleh ’PPK OP Sumber Daya Air II’ 2007

 

      Bendung Benteng terletak di Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang dan kurang lebih 20 KM sebelah utara jantung kota Pinrang. Bendung Benteng saat ini sudah berumur 80 tahun dan Bendung ini memiliki 8 daun pintu. Data informasi Bendung Benteng dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data informasi Bendung Benteng

Sumber : UPT Balai PSDA Saddang

 

E. Saluran

1. Saluran Pembawa

      Daerah irigasi Saddang memiliki 3 saluran induk, 1 intake bebas, dan 126 saluran sekunder. Kondisi fisik saluran pembawa rata-rata mengalami rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat. Beberapa saluran mengalami sedimentasi, utamanya pada saluran induk.

Data Teknis D.I. Sadang:

  1. Luas  potensial  = 62.810 ha
  2. Luas fungsional = 54.674 ha
  3. Panjang Sal. Induk = 75,8 km
  4.  Panjang Sal. Sekunder = 553,7 km
  5.  Panjang  Sal. Pembuang = 453 km
  6.  Jumlah bangunan =  255 buah
  7.   Petak Tersier = 901 petak

 

2. Saluran Induk

     Daerah irigasi Saddang terdiri dari tiga (3) saluran induk yaitu, Saluran Induk Pekkabata, Saluran Induk Sawitto dan Saluran Induk Rappang. Data Saluran Induk daerah irigasi Saddang dapat dilihat pada Tabel 3.

 

Tabel 3. Data Saluran Induk daerah irigasi Saddang

No

Nama Saluran Induk

Luas Layanan

 (Ha)

Debit

(m³/det)

 

1

Sal.Induk Pekkabata

5.417 Ha

7.737 m³/det

2

Sal.Induk Sawitto

30.990 Ha

38.407 m³/det

3

Sal.Induk Rappang

20.279 Ha

25.588 m³/det

 

       Adapun data saluran pembawa daerah irigasi Saddang sebagai berikut :

Tabel 4. Data Saluran Pembawa

NO

NAMA SALURAN

PANJANG

(meter)

1

SALURAN INDUK PEKKABATA

74.761

 

1

Pekkabata

16.997

 

2

Masilla

1.484

 

3

Kaliang

8.255

 

4

Cacabala

1.000

 

5

Batu-Batu

2.996

 

6

Paria

7.010

 

7

Sidomulyo

2.924

 

8

Kuli-Kuli

2.924

 

9

Lamoga

500

 

10

Tatae

1.787

 

11

Lakaloli

2.407

 

12

Data

14.495

 

13

Keppe

7.551

 

14

Sulengka

1.601

 

15

Padang Kiburu

2.830

2

SALURAN INDUK SAWITTO

276.358

 

1

Sawitto

13.775

 

2

Teppo

3.937

 

3

Lasape

8.306

 

4

Masolo

1.562

 

5

Leppangeng

1.874

 

6

Paleteang

7.456

 

7

Palirang

5.175

 

8

Sikuala

5.524

 

9

Sarempo

6.502

 

10

Sempang

2.071

 

11

Salo

4.351

 

12

Madallo

5.204

 

13

Bua-Bua

1.170

 

14

Amassangang

3.413

 

15

Salipolo

17.884

 

16

Bakoko

776

 

17

Sikuledeng

615

 

18

Wakka

8.595

 

19

Baru-Baru

636

 

20

Tanacica

708

 

21

Cempa

15.925

 

22

Tanete

1.772

 

23

Jalenga

1.204

 

24

Labolong

7.263

 

25

Kateong

1.666

 

26

Akajang

1.304

 

27

Bone-Bone

2.183

 

28

Langnga

15.878

 

29

Aluppang

2.934

 

30

Labumpung

1.431

 

31

Tallang

5.783

 

32

Punia

10.199

 

33

Barang

5.281

 

34

Cenrana

2.415

 

35

Tosulo

1.768

 

36

Cengkong

2.399

 

37

Lisse

1.648

 

38

Jampue

18.504

 

39

Ulu Tedong

4.215

 

40

Maroanging

3.108

 

41

Maramu

1.518

 

42

Ulo

8.773

 

43

Sanroja

4.158

 

44

Cora

799

 

45

Paero

509

 

46

Labalakang

976

 

47

Paladang

2.888

 

48

Kanari

1.835

 

49

Alitta

11.667

 

50

Manarang

1.489

 

51

Barugae

600

 

52

Suppa

7.424

 

53

Polewali

1.700

 

54

Latamappa

4.821

 

55

Lamajakka

2.990

 

56

Carawali

9.928

 

57

Rubae

5.050

 

58

Akkae

1.369

 

59

Padang Lampe

1.450

3

SALURAN INDUK RAPPANG

224.937

 

1

Rappang (Intake Ke BR.25)

15.112

 

2

Rappang(BR.25 - BR.41)

16.350

 

3

Bulu Dua

3.445

 

4

Padang Kesik

1.101

 

5

Libukang

2.163

 

6

Mareawa

1.654

 

7

Ujung

2.124

 

8

Abbokongan

2.397

 

9

Bolalele

1.115

 

10

Tonrongnge

3.090

 

11

Benteng-Benteng

1.700

 

12

Simpo

8.524

 

13

Padacenga

2.150

 

14

Dea

2.760

 

15

Padang Gergah

350

 

16

Kassi Pute

2.475

 

17

Manisa

1.434

 

18

Macorawali

991

 

19

Tangkoli

1.318

 

20

Belawa

11.281

 

21

Sereang

883

 

22

Wala

3.149

 

23

Batu-Batu

2.996

 

24

Kayuara

4.718

 

25

Walatedong

2.050

 

26

Abbekae

552

 

27

Watang Sidenreng

2.049

 

28

Padaelo

2.750

 

29

Lompo

3.853

 

30

Lassilotong

2.000

 

31

Empagae

2.119

 

32

Sidenreng (Sid.1 – Sid.13)

12.661

 

33

Majeling

1.124

 

34

Bangkae

7.426

 

35

Ciro-Ciroe

6.131

 

36

Lawawoi

741

 

37

Tallumae

3.696

 

38

Benteng Lewo

2.582

 

39

Sidenreng (Sid.13 – Sid.36)

28.990

 

40

Panrenge

1.252

 

41

Amparita

2.068

 

42

Teteaji

1.050

 

43

Mamminasae

4.548

 

44

Labattoa

7.066

 

45

Madimeng

763

 

46

Tonro Sadang

3.893

 

47

Alecalimpa

2.080

 

48

Sulili

4.820

 

49

Marawi

806

 

50

Tiroang

7.391

 

51

Baru

7.733

 

52

Boki

8.433

 

53

Aressie

1.030

TOTAL

576.056

 

​​​​​​​3. Saluran Tersier

    Saluran tersier di daerah irigasi Saddang rata-rata mengalami rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat. Data inventarisasi luas petak tersier dapat dilihat pada Tabel 5. 

 

Tabel 5. Inventarisasi Luas Petak Tersier

NO

UPTD

LUAS (Ha)

LUAS PETAK

POTENSIAL

FUNGSIONAL

TAMBAK

< 80 Ha

> 80 Ha

1

Pekkabata

5,622

4,648

-

69

24

2

Sawitto

6,725

6,479

-

76

28

3

Salipolo

4,149

3,121

770

35

22

4

Cempa

5,069

3,742

1,326

48

24

5

Langnga

7,507

5,677

1,729

80

35

6

Jampue

3,677

3,325

302

51

13

7

Alitta Carawali

3,745

3,219

515

67

10

8

Tiroang

6,477

5,850

-

126

14

9

Baranti

4,814

4,712

-

69

11

10

Belawa

4,400

4,018

-

47

18

11

Sidenreng I

2,702

2,367

-

38

11

12

Sidenreng II

2,933

2,806

-

25

17

13

Belawa Hilr

2,124

-

-

28

6

TOTAL

59,944

49,964

4,642

759

233

 

      Saluran tersier tersebar di 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Wajo dengan 13 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), yaitu sebagai berikut :

1.   UPTD Pekkabata                         =  88 Unit

2.   UPTD Sawitto                              =  95 Unit

3.  UPTD Cempa                                =  63 Unit

4.  UPTD Salipolo                              =  55 Unit

5.  UPTD Langnga                             = 103 Unit

6.  UPTD Tiroang                               = 105 Unit

7.  UPTD Jampue                               =  60 Unit

8.  UPTD Alitta Carawali                     =  83 Unit

9.  UPTD Baranti                                =  74 Unit

10. UPTD Sidenreng I                        =  58 Unit

11. UPTD Sidenreng II                       =  35 Unit

12. UPTD Belawa                               =  49 Unit

13. UPTD Belawa Hilir                      =  34 Unit        

Jumlah                                              = 902 Unit

 

       Luasan wilayah layanan daerah irigasi Saddang per kecamatan adalah sebagai berikut :

Tabel 6.  Areal Layanan D.I Saddang per kecamatan

NO.

KABUPATEN

KECAMATAN

AREAL LAYANAN (Ha)

1.

 

 

Pinrang

1. Duampanua

2. Batu Lappa

3. Patampanua

4. Cempa 

5. Paleteang

6. Wt.Sawitto

7. Mt. Sompe

8. Mt. Bulu

9. Tiroang

10.Suppa

11.Lanrisang

4.512

10

3.679

4.431

2.616

5.080

3.700

3.562

4.252

928

4.309

2.

Sidrap

1. Kulo

2. Baranti

3. Wt. Pulu

4. Maritengngae

5. Wt. Sidenreng

6. Tellu Limpoe

7. Panca Lautang

719

2.720

517

3.008

3.156

1.099

1.176

3.

Wajo

1. Belawa

2.147

 

F. Sumber Air dan Ketersediaan Air

Sumber Air Irigasi

  1. Nama Sungai

Nama sungai yang merupakan sumber utama air irigasi daerah irigasi Saddang adalah sungai Saddang. Sungai Saddang terdiri dari 5 sub DAS yaitu: Sub DAS Saddang hulu, sub DAS Massupu, sub DAS Mamasa, sub DAS Mataallo, dan sub DAS Saddang Tengah.

  1. Luas Catchment Area

Luas catchment area sungai saddang seluas 6.696 km², yang     meliputi sungai Saddang di Kabupaten Toraja Utara, sungai     Mataallo di Kabupaten Enrekang, dan sungai Mamasa di     Kabupaten Mamasa.

 

Ketersediaan Air Daerah Irigasi Saddang

  1. Debit yang tersedia di intake Bendung

Debit yang tersedia di intake Bendung  dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Debit rata-rata harian periode sungai Saddang 

No.

Bulan

Periode

Q tersedia

Q terpakai

%

Diviasi debit

(m3/dt)

(m3/dt)

Q tersedia/

Debit

Debit 

   

Q terpakai

Cukup

Kurang

1

2

3

4

5

6 = 4 : 5

7

8

1

JANUARI

I

486

61

7,97

 

II

217

73

2,97

 

2

PEBRUARI

I

178

62

2,87

 

II

337

48

7,02

 

3

MARET

I

700

35

20,00

 

II

310

28

11,07

 

4

APRIL

I

249

24

10,38

 

II

607

54

11,24

 

5

MEI

I

401

60

6,68

 

II

302

72

4,19

 

6

JUNI

I

202

70

2,89

 

II

261

58

4,50

 

7

JULI

I

331

62

5,34

 

II

169

70

2,41

 

8

AGUSTUS

I

112

68

1,65

 

II

156

75

2,08

 

9

SEPTEMBER

I

109

64

1,70

 

II

101

44

2,30

 

10

OKTOBER

I

94

44

2,14

 

II

81

65

1,25

 

11

NOVEMBER

I

92

67

1,37

 

II

132

70

1,89

 

12

DESEMBER

I

427

61

7,00

 

II

322

79

4,08

 

TOTAL

6380

1419

 

RATA-RATA

265,83

59,125

 

Sumber : UPT Balai PSDA Saddang

 

 

Pola Debit Tengah-Bulanan Andalan (Probabilitas 80%)

Sungai Saddang di Bendung Benteng  2019 : Rata-Rata 1980-2018

 

 

G. Kehilangan Air

      Persentase kehilangan air irigasi untuk ketelitiannya perlu di adakan penelitian. Secara garis besar kehilangan air dipengaruhi oleh: temperature udara, kelembaban relatif, waktu penyinaran, kecepatan angin, dan sturktur tanah. Secara umum kehilangan air di saluran dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Di saluran induk         ± 10 %
  2. Di saluran sekunder    ± 10 %
  3. Di saluran tersier        ± 20 % 

Penyebab kehilangan air di bendung dan saluran irigasi

1) Penyebab kehilangan air di bendung :

  • bocor di pintu penguras
  • bocor di tubuh bendung
  • bocor di tanggul penutup

2) Penyebab kehilangan air di saluran irigasi :

  • bocor di tanggul saluran
  • bocor di talang
  • bocor di sipon
  • bocor di pintu pelimpah samping
  • karena pengoperasian

 

H. Pola Tanam dan Jadwal Tanam

     Pola tanam dan jadwal tanam daerah irigasi Saddang adalah sebagai berikut :

  1. Musim Tanam I           : April – September
  2. Musim Tanam II          : Oktober – Maret

     Berdasarkan data di atas pada Daerah Irigasi Saddang terdapat 2 musim tanam yaitu Musim Tanam I (MT I) yang dimulai pada bulan April hingga September (Asep) dengan jenis tanaman padi. Sedangkan pada Musim Tanam II (MT II) dimulai pada bulan Oktober hingga Maret dengan jenis Padi Rendengan. 

 

Musim Tanam

Musim Tanam tahun 2018 adalah, sebagai berikut : 

  1. Tanaman Pindah

MT. I        :  April – September (tahun 2018)

MT. II      :  Oktober  – Maret (tahun 2018-2019) 

  1. Tanam Benih Langsung (Tabela)

MT. I        :  April – September (tahun 2018)

MT. II      :  Oktober - Maret (tahun 2018– 2019)

Intensitas Tanam : 160-200 % (padi-padi)

 

     Rencana tata tanam untuk Daerah Irigasi Sadang yang disepakati oleh Komisi Irigasi berdasarkan debit yang tersedia di Bendung Benteng sebagai berikut :

1.  Rencana tata tanam April –  September (Musim Tanam I)

2.  Rencana tata tanam Oktober –  Maret (Musm Tanam II)

 

1. Rencana Tata Tanam April – September (Musim Gadu)

     Rencana tata tanam  periode April -  September  untuk wilayah UPT. Tiroang. Cempa, Salipolo, Sidenreng I dan Sidenreng II dengan tingkat kebutuhan air disawah sebesar 1,71 l/dt.ha. Besarnya tingkat kebutuhan air di sawah disebabkan :

  1. Curah hujan berkurang
  2. Porositas tanah tinggi
  3. Banyaknya pengambilan liar (balombong)
  4. Kondisi saluran sekunder banyak bocor
  5. Saluran tersier banyak tidak berfungsi

    Pengolahan tanah di mulai pada bulan  Nopember dan masa tanam terakhir pada akhir  Desember. Realisasi pengolahan dan penanaman petani sering tidak mengikuti renacana tata tanam yang disepakati oleh Komisi irigasi disebabkan oleh :

  1. Ketersediaan alat pengolahan (traktor) terbatas
  2. Kesiapan dana   pengolahan terbatas
  3. Kondisi sosial budaya
  4. Biaya penanaman mahal

     Berdasarkan alasan tersebut diatas petani  mengalami kendala untuk serempak mengolah dan menanam.

2. Rencana Tata Tanam Oktober – Maret ( Musim Rendeng)

      Rencana tata tata tanam periode  Oktober – Maret untuk daerah UPTD Cempa, UPTD Salipolo, UPTD Tiroang seluas ± 11,820 Ha, dengan tingkat kebutuhan air di sawah 1.4 lt/dt.ha.  Wilayah UPT.Sidenreng ± 5.196 Ha,  dengan tingkat kebutuhan air di sawah 1.4 lt/dt.ha. Besarnya tingkat kebutuhan air disawah disebabkan :

  1. Banyaknya pengambilan liar (balombong)
  2. Kondisi saluran sekunder ada yang rusak
  3. Saluran tersier ada yang tidak berfungsi

      Pengolahan tanah di mulai pada bulan  November dan masa tanam terakhir pada akhir  Desember. Realisasi pengolahan dan penanaman petani sering tidak mengikuti renacana tata tanam yang disepakati oleh Komisi irigasi disebabkan oleh :

  1. Ketersediaan alat pengolahan (traktor) terbatas
  2. Kesiapan dana   pengolahan terbatas
  3. Kondisi sosial budaya
  4. Biaya penanaman mahal

      Berdasarkan alasan tersebut diatas petani  mengalami kendala untuk serempak mengolah dan menanam.

I. Perhitungan Kebutuhan Air

      Daerah irigasi Saddang mengairi 3 Kabupaten atau 18 kecamatan, dengan kebutuhan air sebagai berikut:

Tabel 8. Kebutuhan air daerah irigasi Saddang

No

Saluran Induk

Kebutuhan (m³/dt)

1

2

3

4

5

Sal. Induk Pekkabata

Sal. Induk Rappang

Sal. Induk Sawitto

Intake Urung

Sadap Sa 1 Ki

7,737

26,558

38,302

5,184

0,056

 

Jumlah

77,837

Sumber : Pedoman O & P Partisipatif D.I Saddang 2007

 

J. Operasi Jaringan Irigasi

      Operasi Jaringan Irigasi Partisipasif adalah “kegiatan pengaturan pemanfaatan air pada jaringan irigasi tersebut, yang berupa pengaturan masa tanam, pola tanam dan tata tanam agar sesuai dengan potensi air yang tersedia, pengaturan pembagian air agar dapat merata keseluruh areal irigasinya serta monitoring dan evaluasi data hidrologi dan data tanaman yang dilakukan oleh pemerintah bersama P3A/ GP3A/ IP3A”. Di daerah irigasi Saddang operasi jaringan dilaksanakan oleh Dinas PSDA dalam hal ini UPTD di masing-masing wilayah kerja bersama dengan GP3A/IP3A. Konflik yang biasa terjadi dalam kegiatan operasi yaitu kecemburuan antar petani dibagian hulu karena adanya anggapan bahwa distribusi air lebih diprioritaskan ke Kabupaten Sidrap. Adapun konflik pengaturan pembagian air di bagian hilir yang terlambat di aliri dan belum memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal persawahan di bagian hilir. Dalam setahun intensitas konflik terjadi satu (1) kali setahun.

      Ruang lingkup kegiatan operasi meliputi :

    1. Pekerjaan pengumpulan data (data debit, data curah hujan, data luas  tanam/ panen, data ubinan, data banjir, data kekeringan, dll).
    2. Pekerjaan kalibrasi pintu/ alat pengukur debit.
    3. Penyuluhan tentang pemanfaatan air.
    4. Pekerjaan membuat rencana tata tanam, rencana pembagian air, rencana  pengeringan dan lain-lain.
    5. Pekerjaan melaksanakan pembagian air (termasuk pekerjaan membuat laporan permintaan air, mengisi papan operasi, mengatur bukaan pintu).
    6. Pekerjaan membuka/ menutup pintu bendung.
    7. Pekerjaaan membuka/ menutup pintu penguras kantong lumpur untuk menguras endapan lumpur.

 

1. Rencana Tata Tanam 

       Persiapan Rencana Tata Tanam dilakukan  berdasarkan prinsip partisipatif, yaitu mengikut sertakan peran serta masyarakat petani dengan mempertimbangkan probabilitas ketersediaan air untuk keperluan pertanian.  

    Penyusunan Rencana Tata Tanam dimulai dari pertemuan P3A untuk mengusulkan rencana tata tanam di wilayah masing-masing P3A tentang pola tata tanam yang diinginkan secara musyawarah bersama oleh petani-petani anggota P3A. Selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum dimulainya musim tanam       MT-1. Kemudian GP3A mengadakan rapat untuk membahas usulan Rencana Tata Tanam dari P3A di-masing-masing wilayahnya.  Setelah itu GP3A membawa usulan Rencana Tata tanam tersebut ke Dinas yang membidangi irigasi melalui juru atau pengamat  selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum di mulainya MT-1, kemudian dibahas/dikoordinasikan dalam rapat Komisi Irigasi KabupatenPinrang, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Wajo untuk menentukan Rencana Tata Tanam dalam satu daerah irigasi dengan mempertimbangkan probabilitas ketersediaan air irigasi, rencana pemeliharaan/pengeringan jaringan irigasi, hama dan penyakit tanaman. Rencana Tata Tanam di daerah irigasi Saddang pada Musim Tanam I yaitu bulan April-September dengan luas tanam 60.300 Ha. Sedangkan pada Musim Tanam II yaitu bulan Oktober-Maret dengan luas tanam 54.674 Ha. 

2. Rencana Pembagian Air (RPA)

       Surat Keputusan Bupati Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, dan Kabupaten Wajo Tentang Rencana Tata Tanam/Jadwal Tanam setiap tahunnya melalui Komisi Irigasi digunakan sebagai dasar untuk membuat Rencana Pembagian/Pemberian Air dan Waktu Pengeringan Jaringan Irigasi. RPA disiapkan oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, dan Kabupaten Wajo dan dibahas di Komisi Irigasi Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, dan Kabupaten Wajo. 

 

K. Pemeliharaan Jaringan Irigasi

        Pemeliharaan Jaringan Irigasi Partisipasif adalah “kegiatan perawatan rutin dan perawatan berkala serta penggantian bagian yang rusak dari jaringan irigasi tersebut agar awet. Pemeliharaan jaringan irigasi meliputi kegiatan inspeksi, pengumpulan data kerusakan jaringan, perencanaan, pengawasan, pelaksanaan fisik pemeliharaan, monitoring evaluasi, serta mengadakan penjagaan dan pencegahan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Dinas PSDA Kabupaten Pinrang, Dinas PSDA Kabupaten Sidrap, Dinas PSDA Kabupaten Wajo  bersama P3A/ GP3A/ IP3A”.

       Ruang lingkup kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi meliputi :

    1. Kegiatan pengamanan dan pencegahan
    2. Kegiatan perawatan
        • Perawatan rutin
        • Perawatan berkala
    3. Kegiatan perbaikan
        • Perbaikan darurat
        • Perbaikan permanan
    4. Penggantian

 

L. Perkumpulan Petani Pemakai Air P3A,GP3A dan IP3A 

      Perkumpulan Petani Pemakai air P3A adalah Kelembagaan pengelolaan irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air dalam suatu daerah pelayanan irigasi yang dibentuk oleh petani pemakai air sendiri secara demokratis, termasuk lembaga lokal pengelola irigasi lainnya keanggotaan dari P3A adalah Pemilik tanah, Pemilik penggarap tanah, Penggarap Pemilik kolam ikan yang mendapatkan air irigasi juga badan usaha yang mengusahakan sawah atau kolam ikan Pemakaian air irigasi lainnya, sehingga batas wilayah kerja dari P3A adalah batas batas hidrologi dimana kelompok tersebut menggunakan sarana irigasi berdasarkan aliran tersier atau organisasi kelompok tersier di daerah irigasi Saddang. 

       Daerah Irigasi Saddang yang meliputi 13 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dari ketiga Kabupaten dan memiliki 697 Perkumpulan petani Pemakai Air (P3A) dengan jumlah anggota kurang lebih 54.720 Orang 

       Dari data yang terkumpul bahwa 697 P3A, 54 GP3A dan 7 IP3A sudah terbentuk, baik yang revitalisasi atau yang dibentuk ulang berdasarkan batas batas hidrologi sekema jaringan Irigasi Tersier Sekunder dan Primer.  

         Sebagian besar P3A tersebut sudah pernah dibentuk pada tahun 1990 an, tapi tidak pernah aktif sehingga pada saat terakhir hampir tidak dikenal lagi keberadaannya oleh petani.

      Pembentukan atau revitalisasi P3A yang difasilitasi oleh TPM telah mengukuhkan kembali keberadaan organisasi P3A tersebut di tengah masyarakat petani melalui pembentukan yang demokratis dalam suatu musyawarah anggota, serta penyusunan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, sampai kepada penyusunan program kerja P3A.  Sementara pembentukan GP3A merupakan sesuatu yang baru di tengah masyarakat petani dan keberadaannya diharapkan petani dapat memenuhi kebutuhan untuk mengatasi persoalan pengelolaan di tingkat jaringan utama selama ini.  

 

Tabel 9  Jumlah P3A/GP3A/IP3A Yang Sudah Terbentuk di Daerah Irigasi Saddang

No

Kabupaten/Kota

Jumlah UPTD

Total Luas Areal

Jumlah 

IP3A/GP3A/P3A

IP3A

GP3A

P3A

1

Pinrang

8

34.605

3

40

496

2

Sidrap

4

11.195

3

12

165

3

Wajo

1

4.500

1

2

36

Total

50.300

7

54

697